Rabu, 05 Januari 2011

makalah

TUGAS MANAJEMEN OPERASIONAL
METODE TRANSPORTASI





NAMA : JULIUS NAKMOFA
NIM : 470649
DOSEN WALI : Dra. M. Oematan

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN
KUPANG
2010


BAB I
PENDAHULAN

A. Latar Belakang
Pada umumnya, masalah tranportasi berhubungan dengan distribusi suatu produk tunggal, dari beberapa sumber penawaran terbatas, menuju beberapa tujuan, dengan permintaan tertentu, pada biaya transport minimum. Karna hanya ada satu macam barang, suatu tempat tujuan dapat memenuhi permintaannya dari satu atau lebih sumber. Asumsi dasar dari model ini adalah bahwa biaya transportasi pada suatu rute tertentu proporsional dengan banyaknya unit yang di kirimkan. Unit yang di kirimkan sangat tergantung pada jenis produk yang di angkut. Yang penting, satuan penawaran dan permintaan akan barang yang di angkut akan konsisten.
Dalam metode transportasi di gunakan perhitungan transportasi dari lokkasi pabrik, di mana harus memilih beberapa lokasi dari beberapa alternative lokasi yang ada. Letak geografis suatu pabrik mempunyai pengaruh terhadap sistem produksi yang ekonomis. Sistem produksi yang ekonomis tentu menjadi harapan setiap perusahaan. Sehingga perhitungan distribusi barang dari pabrik sampai ke tempat penampungan menjadi sangat penting di lakukan, sehingga dengan pengeluaran sumber daya yang sangat minim untuk menghasilkan laba optimal menjadi kenytaan.
B. Masalah
1. Bagaimana pengaruh biaya distribusi dari masing-masing pabrik
2. Bagaimana menghitung alokasi biaya transportasi dan jumlah yang akan di angkut
3. Bagaimana menentukan alokasi pasar dari setiap produk yang akan di hasilkan
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui biaya distribusi dari masing-masing pabrik
2. Untuk menentukan alokasi pasar
3. Untuk menghitung/mengalokasikan jumlah yang harus di angkut














BAB II
PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan di uraikan 3 metode yang biasa di gunakan perusahaan, yaitu: metode stepping-stone, metode MODI dan metode vogel’s approximation (VAM).
1. Metode stepping stone
Untuk mempermudah dalam memahami metode ini, berikut ini akan dipergunakan contoh. Suatu perusahaan mempunyai 3 pabrik di kota W, H dan P. perusahaan menghadapi masalah alokasi hasil produksinya dari pabrik-pabrik tersebut ke gudang penjualan A, B dan C. seperti dalam table berikut:
Table 1.1 Kapasitas Pabrik
Pabrik Kapasitas produksi tiap bulan
W 90 ton
H 60 ton
P 50 ton
Jumlah 200 ton

Table 1.2 kebutuhan gudang A, B dan C
Gudang Kebutuhan tiap bulan
A 50 ton
B 110 ton
C 40 ton
jumlah 200 ton

Table 1.3 biaya pengangkutan setiap ton dari pabrik W, H, P ke gudang A, B, C
DARI Biaya tiap ton ( dalam ribuan Rp)
Ke gudang A Ke gudamg B Ke gudang C
Pabrik W 20 5 8
Pabrik H 15 20 10
Pabrik P 25 10 19

Langkah untuk memahami metode ini adalah dengan memasukan data di atas ke dalam table dan menghitung jumlah kebutuhan tiap gudang dengan biaya angkut tiap unit.
Table 1.4 perhitungan kebutuhan dengan biaya angkut

Dari ke


Gudang A
Gudang B
Gudang C
Kapasitas
Pabrik W 50
40

90
Pabrik H
60

60
Pabrik P
10
40
50
Kebutuhan gudang 50 110 40 200

Dari table ini, kita mencoba menghitung biaya pengangkutan untuk didistribusikan ke tiap gudang dari pabrik.
50(20) + 40(5) + 60(20) + 10(10) + 40(19) =
1000 + 200 + 1200 + 100 + 760 = 3260.
bila kita merubah alokasi diatas seperti dibawah ini

Dari ke


Gudang A
Gudang B
Gudang C
Kapasitas
Pabrik W 50
40

90
Pabrik H
60

60
Pabrik P
10
40
50
Kebutuhan gudang 50 110 40 200
Dari kemungkinan kedua ini bila kita hitung biaya pengangkutan sebagai berikut:
20(20)+30(5)+40(8)+60(20)+30(25)+20(10)=
400+ 150+320+1200+750+200 = 3.020
Dari dua perhitungan ini, bisa dibandingkan sebagai berikut : perhitungan pertama didapat biaya angkutan sebesar Rp. 3.260 dan perhitungan kedua sebesar 3.020. dengan demikian kita memilih menggunakan perhitungan kedua karena akan menghemat biaya sebesar Rp. 240.
2. METODE MODI (MODIFIED DISTRIBUTION METHOED)
Metode MODI merupakan perkembangan dari metode stepping stone, didalam metode stepping stone terdapat banyak langka yang harus diulangi kembali yaitu didalam menentukan jalur “ tertutupnya sehingga apabila terdapat persoalan yang kompleks maka langkah-langkah yang selalu berubah kembali itu sangat menjemukan oleh karna itu kemudian diciptakan metode modified distribution yang sering disingkat MODi Method ini didasarkan pada metode stepping stone yang diubah sehingga diperoleh cara yang lebih efisien didalam menentukan segi empat.
Menentukan nilai baris dan kolom
Nilai baris dan kolom ditentukan berdasarkan persamaan diatas (Ri +Kj = Cij ). Baris pertama selalu diberi nilai 0, dan nilai baris-baris yang lain dan nilai semua kolom ditentukan berdasarkan hasil-hasil hitungan yang telah diperoleh maka nilai kolom yang dihubungi dengan segi empat batu dapat dicari dengan rumus Ri +Kj = Cij
Nilai baris W = RW = 0
Mencari kolom nilai A
RW + RK = CWA
0 + KA = 20, nilai kolom A = KA = 20
Mencari nilai kolom dan baris yang lain:
RW + KB = CWB; 0 + KB = 5; KB = 5
RH + KB = CHB; RH + 5 = 20; RH = 15
Rp + KB = CPB; RH +5 =10; RP = 15
Rp + KC = CPC; 5 + KC = 19; KC = 14.
Nilai-nilai ini kemudian diletakkan Pada baris kolom seperti tampak dibawa ini
Table 1.5
ke

Dari

Gudang A
= 20
Gudang B
= 5
Gudang C
= 14
jumlah
Pabrik
W = 0

50 (-)

40 90

(+)
90
Pabrik H

50
(+)

60

( - ) 10

60
Pabrik P


10 40
50
Jumlah 50 110 40 200

Menghitung indks perbaikan
Indeks perbaikan adalah nilai dari segi empat air (segi empat yang kosong ). Mencarinya dengan rumus ;
Cij – Ri – Kj = indeks perbaikan
Segi empat Cij – Ri – kj Indeks perbaikan
HA 15 – 15 – 20 -20
PA 25- 15 - 20 0
WC 8 – 0 - 14 -6
HC 10- 15- 14 -19

Memperbaiki alokasi untuk mengurangi biaya angkutan terendah
contoh (a)
ke

Dari

Gudang A
= 20
Gudang B
= 5
Gudang
C = 14
Kapasitas pabrik
Pabrik
W = 0

50 (-)

40 90

(+)
90

Pabrik H = 15

50
(+)

60

( - ) 10
60

Pabrik P = 5


10

40 50
Jumlah 50 110 40 200

Biaya transportasi = 90 (5) + 50 (15) + 10 (20) + 10 (10) + 40 (19) = 2.260.
(b.)
ke

Dari

Gudang A
= 0
Gudang B
= 5
Gudang
= 14
Kapasitas pabrik
Pabrik
W = 0




90

90

Pabrik H = 15

50
(+)

10

( - )


10
(-) 60

Pabrik P = 5


10
20 (+)

40
30 50
Kebuthan gudang 50 110 40 200

Biaya transportasi = 90 (5)+50 (15) + 10 (10) + (10) + 20 (10) + 30 (19) =2.070.
(C)
ke

Dari

Gudang A
= 0
Gudang B
= 5
Gudang C
= 14
Kapasitas pabrik
Pabrik
W = 0


90
60 (-)
90

Pabrik H = 15

50

10

10
60

Pabrik P = 5

20 50
(+)

30 (-) 50
Kebutuhan
gudang 50 110 40 200


Biaya transportasi = 60 (5) + 30 (8) + 50 (15) + 10 (10) (20) + 10 (10) + 50 (10) = 1.890.
(d).
ke

Dari

Gudang A
= 13
Gudang B
= 5
Gudang C
= 8
Kapasitas pabrik
Pabrik
W = 0



60
(+)

30 90

Pabrik H = 15

50


10
60

Pabrik P = 5


50

50
Kebutuhan
gudang 50 110 40 200

Biaya transportasi = 60 (5) + 30 (80) + 50 (15) + 10 (10) + 50 (10) = 1.890.
Dari table d tidak dioptimalkan lagi, karna indeks perbaikan pada setiap segi empat air sudah tidak ada yang negatif.
METODA vogel’s (VAM)
Metode vogel atau vogele’s Approximation method (VAM) merupakan metode yang lebih mudah dan lebih cepat untuk dapat mengatur alokasi dari berapa sumber ke berapa daerah pemaiasaran.
Kebaikan dari metode VAM ini adalah mudah menghitungnya, tetapi hasil pemecahaan dari metode ini kadang – kadang masih di optimalkan dengan memakai metode lain langka – langka yang di lakukan sebagai berikut :
1. Susunan kebutuhan, kapisitas masing – masing sumber, dan biaya pengangkutan kedalam matriks seperti di bahwa ini :
Table 1.6
ke

Dari

Gudang A

Gudang B

Gudang C

Kapasitas
Pabrik W
50


40

90

Pabrik H


60



60

Pabrik P


10


40 50
Kebutuhan
gudang 50 110 40 200

Gudang
A B C Kapasitas Perbedaan baris
Pabrik W
H
P 20
15
25 5
20
10 8
10
19 90
60
50
3
5
9
Kebutuhan 50 110 40 Pilihan X PB = 50
Perbedaan kolom 5 5 2

2. Carilah perbedaan dari 2 biaya terkecil yaitu biaya terkecil dan terkecil kedua untuk tiap baris dan kolom. Misalnya pada baris W, biaya angkut terkecil Rp.5 dan nomor dua yang terkecil Rp.8, jadi nilai baris W = 8 – 5 = 3. Demikian seterusnya nilai – nilai sebagai berikut
Baris H = 15 – 10 = 5
Baris P = 19 – 10 = 9
Kolom A = 20 – 15 = 5
Kolom B = 10 – 5 = 5
Kolom C = 10 – 8 = 2
3. Pilihan 1 nilai perbedaan - perbedaan yang terbesar diantara semua nilai perbedaan pada kolom dan baris, dalam hak ini baris P mempunyai nilai dan perbedaan terbesar, yaitu 9.
4. Istilah pada satu segi 4 yang terasuk dalam kolom atau baris terpilih, yaitu pada segi empat yang termasuk dalam kolom atau baris terpilih, yaitu pada segi empat yang terendah diantara segi empat lain pada kolom / baris itu. Isianya sebanyak mungkin yang bisa dilakukan. Misalnya pada baris P untuk segi empat PA = 25, segi empat PB = 10, dan segi empat PC = 19. Yang terkecil adalah biaya pada segi empat PB. Maka kita isi segi empat PB dengan 50 satuan (lebih dari 50 tidak mungkin karena kapasitas pabrik P = 50)
Table 1.7
Gudang
A B C Kapasitas Perbedaan
baris
Pabrik W
H
P 20
15
25 5
20
10 8
10
19 90
60
50
3
5
9

Kebutuhan 50 110 40 Pilihan X PB = 50
Perbedaan kolom 5 5 2 Hilangkan baris P

5. Hilangkan baris P karena baris tersebut sudah terisi sepenuhnya (kapasitas penuh) hingga tidak mungkin tersisi lagi. Kemudian perhatikan kolom dan baris yang belum terisi / teralokasi (baris dan kolom A, B, C).
6. Tentukan kembali perbedaan (selisih) biaya pada langka ke – 2 untuk kolom dan baris yang belum terisi. Ulagi langka ke 3 sampai – sampai dengan langka 5, sampai semua baris dan kolom sepenuhnya teralokasi, seperti table di bahwa ini.
Table 1.8
Gudang
A B C Kapasitas Perbedaan
baris
Pabrik W
H
20
15
5
20
8
10
90
60
3
5

Kebutuhan 50 110 40 Pilihan X WB = 60
Perbedaan kolom 5 5 2 Hilangkan baris B
Table 1.9
Gudang
A C Kapasitas Perbedaan
baris
Pabrik W
H
20
15
8
10 30
60
12
5

Kebutuhan 50 40 Pilihan X WC = 30
Perbedaan kolom 5 2 Hilangkan baris W

Table 1. 10
Gudang
A B C Kapasitas
Pabrik W
H
15
20
10
10 10
19 60
50
Kebutuhan 50 110 40 Pilihan X HA = 30
XHA = 10

Jadi matriks alokasi dengan metode Vogel’s Approximation di atas adalah sebagai berikut :
ke

Dari
Gudang A
Gudang B
Gudang C
Kapasitas
Pabrik W


60

30

90

Pabrik H
50





10


60

Pabrik P


50




50
Kebutuhan
gudang 50 110 40
200

7. Setelah berisi semua, maka biaya transporasinya yang harus di bayar adalah 60 (5)
+ 30 (8) + 50 (15) + 10 (10) + 50 (10) = 1.890.
8. Bila nilai perbedaan biaya ada 2 yang besarnya sama, missal yang satu terletak pada kolom maka : lihat segi empat yang masuk kedalam kolom maupun baris yang mempunyai nilai terbesar. Bila empat ini mempunyai biaya terendah diantara segi empat pada baris atau kolomnya, maka isikan alokasi maksimum pada segi empat ini. Bila biaya tidak terendah, maka pilihan segi empat yang akan diisi berdasar salah satu, baris terpilih atau kolom terpilih, seperti pada langka 4 dan 5.
Kapasitas tidak dengan kebutuhan
Bila kebutuhan tidak sama dengan Kapasitas yang tersedia, maka untuk menyelesaikan kasus tersebut harus dibuat kolom semu atau baris semu, sehingga jumlah isian kolom dan jumlah baris isian sama.

Dari ke

Dari
Gudang A
Gudang B
Gudang C
Dummy
Kapasitas
Pabrik W


60

30
90

Pabrik H





10


60

Pabrik P



50



100

Kebutuhan
gudang 50 110 40 50 250

Kebutuhan lebih besar dari sumber tersedia
ke

Dari
Gudang A
Gudang B
Gudang C
Kapasitas
Pabrik W


60

30

90

Pabrik H
50





10


60

Pabrik P



50





50
Dummy


50
Kebutuhan
gudang 50 110 40
250

Masalah Degeneracy
Dalam mengisi tabel awal berdasar sudut kiri kadang – kadang terjadi degeneracy, yaitu apabila banyaknya segi empat yang terisi kurang dari m + n – 1 (maka banyaknya baris dan banyak nya kolom ).
Misalnya seperti tabel di bahwa ini, segi empat XB merupakan segi empat yang tidak terisi.
ke

Dari
Gudang A
= 20

Gudang B 5
=
Gudang C Gudang D Kapasitas
Pabrik W





90

Pabrik H





40

20

60

Pabrik P





50

50
Kebutuhan
gudang 50 40 40
70
200

Dalam mencari nilai baris dan kolom :
Rw = 0
Rw + KA = CWA; 0 + KA = 20; KA = 20
Rw + KB = CWB; 0 + KB = 5; KB = 20
Sampai di sini kita tidak bisa lanjutkan untuk mencari nilai baris H, karena segi HB kosong. Untuk mengatasi hal ini bisa kita isi segi empat HB dengan isian 0. Dengan demikian jumlah segi empat yang tersisi ada 6, tapat sama dengan m + n – 1(3 + 4 - 1) seperti terlihat tabel di bawah ini.
ke

Dari
Gudang A
= 20

Gudang B 5
=
Gudang C = -5 Gudang
D = 0 Kapasitas
Pabrik W
50
40



90

Pabrik H



0

40

20

60

Pabrik P





50

50
Kebutuhan
gudang 50 40 40
70
200

Dengan sendirinya nilai dari semua kolom dan baris dari tabel diatas ini dapat di cari, karena segi empat HP sudah tersisi.
RH + KB = CHB; RH + 5 = 20; RH = 20 – 5 = 15
RH + KC = CHX; 15 + KC = 10; KC = 10 – 15 = 5
RH + KD = CHD; 15 + KD = 15; KD = 15 – 15 = 0
RP + KD = CHD; RP+ 0 = 20; Rp = 20
Berdasarkan nilai – nilai tersebut di atas maka nilai indeks perbaikan dapat dicari dan perbaikan dapat dilakukan sampai tabel optimal, caranya Sama dengan yang telah dibicarakan di depan.



















BAB III
PENUTUUP

1. Kesimpulan
Dari perusahaan di atas dapat di simpulkan sebagai berrikut
 Metode transportasi merupakan alat bantu bagi perusahaan dalam menghitung nilai transportasi dan alokasi produk
 Metode transportasi dalam perusahaa ini mencangkup metode Stepping Stone, VAM dan MODI
 Biaya distribusi sangat memegang peranan penting sebagai salah salah satu indicator pendukung laba perusahaan.
2. Saran
 Semua metode, termasuk metode transportasi miliki keunggulan dan kelemahaan masing – masing, tetapi yang penting adalah memakai metode ini sebagai alat bantu dalam manajemen operasional perusahaan
 Sebagai mahasiswa, dapat memperdalam metode ini untuk di aplikasikan dalam bidang kehidupan masing – masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar